10 hal yang harus di perhatikan dalam menulis cerpen

Pada dasarnya, semua orang memiliki kemampuan menulis. Namun tingkat kemampuan menulis seseorang tersebut sangat tergantung pada bakat, kemauan, serta minat untuk belajar dan mengembangkan kemampuan menulisnya. Begitu juga dengan menulis cerpen atau cerita pendek.
Cerpen atau dapat disebut juga dengan cerita pendek merupakan suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerpen cenderung singkat, padat, dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella dan novel. Yang jelas, karakteristik utama cerpen adalah pendek dan singkat. Di dalam cerita yang singkat itu, tentu saja tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, atau bisa juga sampai sekitar empat orang paling banyak. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh itu diungkapkan di dalam cerita. Fokus atau, pusat perhatian, di dalam cerita itu pun hanya satu. Konfliknya pun hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Tinggal bagaimana menyelesaikan saja.
Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis cerita pendek:

1. Tetaplah Fokus
Salah satu alasan mengapa cerita pendek gagal adalah penulis mencoba menjejalkan terlalu banyak ke dalamnya. Idealnya memiliki ide yang kuat dan keseluruhan ceritanya harus berputar di sekitar itu.

2. Sadarilah Jumlah Katahttps://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-2368305375665957&output=html&h=250&slotname=5958203929&adk=2189321588&adf=2362011909&w=330&fwrn=7&fwrnh=100&lmt=1590183898&rafmt=1&psa=0&guci=2.2.0.0.2.2.0.0&format=330×250&url=http%3A%2F%2Firmangenotip.blogspot.com%2F2018%2F03%2F10-hal-yang-harus-diperhatikan-dalam-menulis-cerita-pendek.html%3Fm%3D1&flash=0&fwr=0&rpe=1&resp_fmts=3&sfro=1&wgl=1&dt=1598250707498&bpp=15&bdt=1731&idt=282&shv=r20200818&cbv=r20190131&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&prev_fmts=330×275&correlator=2188721429667&frm=20&pv=1&ga_vid=966628153.1598250708&ga_sid=1598250708&ga_hid=1983281221&ga_fc=0&iag=0&icsg=2251813280719360&dssz=53&mdo=0&mso=0&u_tz=480&u_his=1&u_java=0&u_h=800&u_w=360&u_ah=800&u_aw=360&u_cd=24&u_nplug=0&u_nmime=0&adx=10&ady=1593&biw=360&bih=672&scr_x=0&scr_y=0&eid=42530588%2C21066819%2C21066973&oid=3&pvsid=424939508525383&pem=277&ref=http%3A%2F%2Fwww.google.com%2F&rx=0&eae=0&fc=900&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C360%2C0%2C360%2C672%2C360%2C672&vis=1&rsz=%7C%7CoeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=8320&bc=23&ifi=2&uci=a!2&btvi=1&fsb=1&xpc=1XscUnimIo&p=http%3A//irmangenotip.blogspot.com&dtd=310Sebuah cerita pendek sekitar 1500 kata bisa mengikuti format “punchline“, dengan perkembangan yang lambat melalui narasi dan berakhir dalam putaran mendadak. Bagian yang lebih lama memiliki waktu untuk pengembangan lebih lanjut dan memungkinkan penulis menulis cerita yang lebih rumit.

3. Jangan Menambahkan Karakter Terlalu Banyak
Pembaca akan terasa sulit untuk terlibat di dalam cerita, bilamana karakter terlalu banyak. Menambahkan karakter terlalu banyak berarti penulis harus menyebarkan usaha ke lebih banyak tubuh.

4. Menjaga Kecepatan
Seorang pembaca mungkin hanya melihat ceritamu untuk mencicipi hiburan yang cepat, dan jika penulis mulai menyeret semuanya dan memperlambat laju, pembaca mungkin akan bosan. Namun, tidak semua cerita bisa dikemas dengan baik, dan tidak masalah untuk membangun, tapi ingat untuk menahan ketegangan.

5. Jangan Takut Untuk Menulis Ulang
Menulis ulang seluruh cerita pendek mungkin hanya memakan waktu beberapa jam. Bahkan mungkin memilih untuk menulis beberapa versi yang berbeda, menceritakan kisahnya dengan cara yang berbeda.

6. Menggaet Pembaca
Terbuka dengan kalimat tajam yang menarik, sesuatu yang menimbulkan pertanyaan dan membuat pembaca ingin tahu lebih banyak.

7. Mengembangkan Suara Narratif
Membuat nada yang tepat untuk sebuah cerita pendek akan membantu untuk melibatkan pembaca. Dalam ruang yang singkat, cerita memerlukan sesuatu yang istimewa untuk memberi dampak pada pembaca, dan suara naratif yang kuat yang menyelimuti cerita akan memberi mereka sesuatu untuk diingat.

8. Tambahkan Konflik
Gagasan yang berguna dalam tulisan apa pun, mengenalkan konflik akan menciptakan ketegangan dan membantu menarik pembaca ke dalam cerita.

9. Penggunaan Dialog Yang Baik
Dialog yang ditulis dengan baik menggerakkan ceritanya jauh lebih cepat daripada penjelasan paragraf. Tapi jangan hanya memikirkan apa yang dikatakan karakter, tapi juga bagaimana mereka mengatakannya.

10. Bekerja Keras di Akhir Cerita
Penulis harus bekerja keras memilih untuk mengakhiri cerita dengan baik dan sesuai dengan nada dan gaya ceritanya. Mengakhiri sebuah cerita pendek adalah apa yang akan melekat pada pembaca.

***

Mohon tanggapan nya dalam menulis blog:v masih pemula

Official account

@

Diam

Saat kata tak lagi berarti hanya diam lah yang kau bisa ambil dengerin deh hadist berikut ini,daripada mencela kan lebih baik diem

Diam Itu Emas

Risalah sederhana berikut berisi penjelasan mengenai bahaya lisan. Sehingga berhati-hatilah dengan lisan, jangan sampai digunakan untuk mencemooh, mengejek orang lain, apalagi ditujukan pada seorang muslim yang ingin menjalankan ajaran Islam. Jadi satu kondisi, diam itu emas jika diamnya adalah dari membicarakan orang lain, atau diamnya dari berbicara yang sia-sia atau berbau maksiat.

Perhatikanlah, sesungguhnya karena lisan seseorang bisa terjerumus dalam jurang kebinasaan. Lihatlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ketika berbicara dengan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ. قُلْتُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ  كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ  ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

“Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Iya, wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih)

Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka.

Kan lebih baik diam bro sis karena diam tuh lebih baik,ketika kata tak mampu sebaiknya diam daripada kita mencela itu hanya akan jadi penghantar kita keneraka nya…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari no. 6478)

Kau tau diam tidak akan ada artinya ,tapi dia akan berarti ketika kita benar benar saling menghargai dan tidak mencela.ketika kata tak berarti lagi bagi kita sebisa mungkin kita diam,dan tidak mencela .